Senin, 05 Oktober 2015

LARUTAN STOK



Komponen Larutan Stok
A.  Pengertian dan Tujuan Pembuatan Larutan Stok
Larutan Stok adalah larutan yang konsentrasinya dipekatkan atau ditinggikan dari konsentrasi media.  Biasanya dinyatakan dalam kelipatan konsentrasi media, misalnya 10x, 20x, 100x  bahkan 1000x konsentrasi media.
Tujuan pembuatan larutan stok adalah untuk menghindari penimbangan yang berulang-ulang setiap kali membuat media.  Disamping itu kadang-kadang timbangan untuk menimbang bahan-bahan dalam jumlah yang sangat kecil tidak tersedia di laboratorium.
Larutan stok sebaioknya disimpan di tempat yang bersuhu rendah dan gelap.

Komponen larutan stok dapat dikelompokkan ke dalam :
1.      Unsur makro, terdiri dari unsure-unsur nitrogen (N), fosfor (P), Kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S)
2.      Unsur mikro, terdiri dari boron (B), cobalt (Co), tembaga (Cu), Iodium (I), besi (Fe), mangan (Mn), molybdenum (Mo) dan seng (Zn)
3.      Vitamin (vitamin B1) dan myo-inositol, pada beberapa formula media ditambahkan niasin dan piridoksin (B6)

Tabel 1. Konsentrasi Bahan-bahan Kimia pada Media MS (1962) dan Unsur Nutrisi yang terkandung di dalamnya

No
Bahan Kimia
Konsentrasi
(mg/l)
Unsur yang terkandung
Unsur Makro
1
KNO3
1900
K, N
2
NH4NO3
1650
N
3
CaCl2.2H2O
440
Ca
4
MgSO4.7H2O
370
Mg, S
5
KH2PO4
170
K, P
Unsur Mikro
6
MnSO4.4H2O
16,9
Mn, S
7
ZnSO4.7H2O
8,6
Zn, S
8
H3BO3
6,2
B
9
KI
0,83
K, I
10
Na2MoO4.7H2O
0,250
Mo
11
CoCl2.6H2O
0,025
Co
12
CuSO4.5H2O
0,025
Cu, S
Unsur Mikro Besi (Fe)
13
FeSO4.7H2O
27,8
Fe
14
Na2EDTA
37,3


Pembuatan larutan stok didasarkan pada pengelompokan-pengelompokan yaitu : stok makro, stok mikro, stok Fe (besi), stok vitamin, stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera habis digunakan).  Stok hormone dapat disimpan 2 – 4 minggu, sedangkan hara dapat disimpan 4 – 8 minggu.  Dengan adanya larutan stok pembuatan media selanjutnya tinggal mengencerkan larutan stok saja.

Tabel 2.  Kebutuhan bahan larutan stok media MS
Kode stok
Nama Stok
Bahan yang ditimbang (mg)
Volume wadah stok (ml)
Stok yang diambil untuk 1 liter media (ml)
Stok Makro
10 x
A
KNO3
19000
100
10
B
NH4NO3
16500
100
10
C
CaCl2.2H2O
4400
100
10
D
MgSO4.7H2O
3700
100
10
E
KH2PO4
1700
100
10
Stok Mikro 1
100 x
F
H3BO3
62
100
1
Na2MoO4.7H2O
2,5
CoCl2.6H2O
0,25
KI
8,3
MnSO4
169
ZnSO4.7H2O
86
CuSO4.5H2O
0,25
Stok Mikro 2
10 x
G
FeSO4.7H2O
278
100
10
Na2EDTA
373
Stok Vitamin
10 x
H
Glisin
20
100
10
Asam nikotin
5
Piridoksin HCl
5
Thiamin HCl
1
Stok Hormon (sesuai Kebutuhan)
I
BAP
100
100
1

NAA
100
100
1


B.  Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Pembuatan dan Penyimpanan Larutan Stok
            Pada pembuatan larutan stok harus memperhatikan daya simpan larutan.  Larutan yang sudah mengalami pengendapan tidak dapat digunakan lagi.  Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan larutan terlalu tinggi.  Oleh karena itu pengendapan larutan dapat dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsure hara makro).  Kondisi simpan juga perlu diperhatikan, karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya.  Larutan stok kadang-kadang juga ditumbuhi oleh mikroorganisme, larutan stok yang terkontaminasi ini tidak dapat digunakan lagi.
Perhitungan Kebutuhan Bahan
A.  Menyatakan Konsentrasi
            Konsentrasi bahan dalam media atau larutan stok dapat dinyatakan dalam
1.  ppm (part per million) atau seperjuta
2.  mg/l
3.  M (molaritas) = mol/l = bobot molekul (g/l)
Dimana :          1 ppm = 1 mg/l
                        1 M = 103 mM = 106 µM
                        1 M = bobot molekul x 1000 mg/l
Konsentrasi suatu larutan dapat diperbesar atau disebut juga dipekatkan dan diperkecil atau disebut diencerkan.  Pemekatan larutan dapat dilakukan dengan cara memperbesar zat terlarut per satuan volume yang sama atau melarutkan zat yang sama pada volume larutan yang lebih kecil.  Pada kasus pemekatan konsentrasi media untuk larutan stok dan pengenceran untuk media dari bahan stok dapat menggunakan persamaan :
Vstok x Cstok = Vmedia x Cmedia
Dimana :          Vstok               =  Volume larutan stok (ml
                        Cstok               =  Konsentrasi larutan stok (… x Cm)
                        Vmedia           =  Volume larutan media (ml, liter)
                        Cmedia            =  Konsentrasi media (mg/l, ppm, M)

B.  Contoh Perhitungan
Soal 1
Terdapat larutan stok NH4NO3 dengan konsentrasi 10 x konsentrasi media.  Jika kita membuat 2 liter media, berapa volume larutan stok NH4NO3 yang diambil?
Jawaban
Vs x Cs  = Vm x Cm
Vs x 10 Cm  =  2000 ml x 1 Cm
Vs  = 2000ml x 1 Cm / 10 Cm  = 200 ml

Soal 2
Berapakah banyaknya bahan kimia ZPT Benzil Adenin (BA) yang harus ditimbang untuk membuat 200 ml larutan stok BA yang berkonsentrasi 1 mM (BM BA = 225)
Jawaban
1 M BA  =  BM BA g/l  = 225 g/l
1 mM BA  =  225 mg/l  = 225 mg/1000 ml
BA  =  200 ml x 225 mg/1000 ml  =  45 mg

Soal 3
Jika kita akan membuat 2 liter media MS dengan konsentrasi BA 5 µM, berapa ml larutan stok BA di atas yang harus ditambahkan ke dalam media?
Jawaban
Larutan stok BA yang harus ditambahkan ke dalam media adalah
Vs x Cs  = Vm x Cm
Vs x 1000µM  = 2000 ml x 5 µM
Vs  =  2000 ml x 5 µM / 1000µM  =  10 ml







Transplanting Tanaman


Pengertian Transplanting
Transplanting adalah memisahkan bibit dari sekelompoknya hingga menjadi tanaman individu dalam suatu wadah hingga tanaman individu dalam suatu wadah tersendiri sesuai dengan ukuran dan pertumbuhannya

Tujuan Transplanting
1.    Mempercepat pertumbuhan bibit
2.    Mempermudah bibit menyesuaikan diri dengan lingkungan
3.    Mengurangi tingkat kematian bibit dilapangan
4.    Memudahkan dalam pemindahan bibit ke lapangan.

Pemindahan tanaman atau yang kita kenal dengan transplanting merupakan hal yang sangat penting dalam teknik budidaya jenis-jenis tanaman sayur dan buah. Adapun beberapa kegiatan seperti potting, repotting, pricking off, balling dan setting out merupakan kegiatan yang berkaitan dengan transplanting (pemindahan tanam).
1.    Potting merupakan kegiatan pemindahan tanaman/bibit dari bedengan semai atau flat pembibitan ke pot-pot yang telah disiapkan dengan tanah dan campuran pupuk.
2.    Repotting merupakan kegiatan pemindahan tanaman dari pot-pot/polybag yang lebih kecil ke pot-pot yang berukuran lebih besar.
3.    Pricking off merupakan cara persemaian dengan hanya menaburkan benih di atas bedengan semai untuk kemudian dipindah tanamkan ke polibag maupun ke bedengan-bedengan yang tersedia.
4.    Setting out merupakan tindakan pemindahan tanaman dari pot-pot, flat maupun bedengan ke tempat penanaman di lapang (Tjionger, 2008).

Kriteria Bibit Siap Transplanting
1.    Tumbuh sehat tidak terserang hama dan penyakit, subur dan seragam
2.    Cukup umur, tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua
3.    Struktur perakarannya baik, akar tunggang lurus dan cukup panjang
4.    Calon batang lurus dan tidak patah

Alat yang digunakan dalam kegiatan transplanting
1.    Ember
2.    Gembor
3.    Tongkat kayu
4.    Sekop/pengungkit bambu/kayu

Teknilk Transplanting Bibit
1.  Menyiapkan media tumbuh
Media tumbuh untuk transplanting bibit tergantung dari jenis/varietas tanaman dan umur transplanting.  Media tumbuh dapat berupa komposisi yang sama dengan media semai. Media tumbuh untuk transplanting bila perlu ditambahkan dengan pestisida seperti nematisida, fungisida dan bakterisida.
2.  Memilih Bibit
Bibit yang ditransplanting sebaiknya dipilih yang sehat, subur, seragam, cukup umur dan tidak cacat.  Umur bibit yang ditransplanting bervariasi tergantung dari varietas berkisar antara 3 – 4 minggu setelah semai.
3. Menanam bibit ke dalam polybag/wadah
Menanam bibit ke dalam polybag (transplanting) harus dilakukan secara hati-hati karena akar-akarnya, batang dan daunnya masih lemah.  Jika akarnya putus, kemungkinan akan terinfeksi jamur atau bakteri sangat tinggi.  Batang yang dipegang terlalu ketat juga dapat menyebabkan bibit menjadi mati.

Prosedur menanam bibit ke dalam polybag adalah sbb:
1.    Siapkan media tumbuh dan isikan dalam polybag sebanyak ¾ bagian
2.    Pegang daun bibit perlahan-lahan, cungkil media tempat tumbuh secara hati-hati
3.    Pindahkan bibit dan tanam bibit bersama media semai yang masih menempel pada akar
4.    Tempatkan bibit hasil transplanting di tempat pembibitan
5.    Pelihara bibit sampai masa pindah tanam

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada transplanting bibit adalah :
1.    Memeriksa kesiapan media tumbuh dalam polybag/wadah, bibit dan peralatan penanaman
2.    Melakukan penanaman bibit dengan memperhatikan aspek teknis dan ekonomis
3.    Mengelompokkan, memonitor dan memelihara bibit tanaman yang telah ditanam, sesuai kondisi tanaman di lapangan
Dalam pelaksanaan transplanting, bibit yang disemai akan mengalami proses kerusakan terutama pada sistem perakarannya. Hal ini erat kaitannya dengan proses absorbsi dengan transpirasi yang berlangsung secara bersamaan dimana saat pemindahan, tanaman akan berhenti mengabsorbsi air sementara di lain pihak proses transpirasi tetap berlangsung. Dengan demikian akan terjadi reduksi air di dalam bibit tanaman. Untuk mengembalikan pada keadaan awal, diperlukan adanya daya bangun (recovery) atau daya sembuh dari tanaman-tanaman itu sendiri. Pada dasarnya daya recovery dari tanaman-tanaman sayur dan buah yang herbaceous (berbatang lunak) tergantung dari : (a) ukuran dan umur tanaman (size and age of plant), (b) jenis tanaman dan (c) perlakuan pada waktu pemindahan (Tjionger, 2008).
Pada saat transplanting dilakukan, umur tanaman berbanding terbalik dengan jumlah akar rambut yang tertinggal. Artinya semakin panjang umur tanaman, akan mengakibatkan lebih sedikitnya akar rambut yang tertinggal. Hal ini tentunya berhubungan dengan kemampuan tanaman tersebut dalam mengadakan absorbsi air dan unsur hara. Pada umumnya tanaman/bibit sudah dapat dipindahkan setelah terlihat pemunculan daun sebenarnya (true leaves) sebanyak 2–3 helai. Ukuran dan umur tanaman juga berhubungan langsung dengan makin luasnya permukaan daun (transpirasi). Berdasarkan kenyataan tersebut, banyak pengusaha sayuran dan tanaman hias mengadakan pemindahan tanaman saat tanaman tersebut masih kecil (Tjionger, 2008).



Menangani Gulma Hasil Pengendalian



MENGUMPULKAN GULMA HASIL PENGENDALIAN SECARA MEKANIS/FISIK
Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik perlu ditangani lebih lanjut agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman yang ada di lahan pertanian. Selain itu dengan adanya penanganan gulma lebih lanjut untuk pengendalian gulma secara mekanis/fisik akan lebih mengefektifkan metodepengendalian gulma tersebut.
Penanganan gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik secara umum bertujuan untuk
a.      Mencegah penyebaran biji dan organ perbanyakan vegetative gulma tumbuh kembali di lahan pertanian
Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik apabila tidak lagi ditangani lebih lanjut dapat menimbulkan masalah di lahan pertanian terutama untuk mencegah biji gulma yang masih tertinggal pada gulmanya tumbuh lagi di lahan. Hal ini dapat berkecambah walaupun bijinya belum masak secara sempurna (masak fisiologis). Sealain itu organ perbanyakan vegetatif gulma seperti rhizoma, stolon, dan umbi akar akan mudah tumbuh kembali di lahan pertanian apabila tidak dipindahkan dari lahan tersebut dan ditangani lebih lanjut.
b.      Membersihkan lahan pertanian dari patogen penyebab penyakit yang inangnya berupa gulma
Ada beberapa jenis gulma yang menjadi inangnya pathogen penyebab penyakit tanaman. Misalnya rumput grinting (Cynodon dactylon), jawan (Echinochloa crusgalli), dan rumput belulang (Eleusine indica) yang menjadi inang patogen penyebab penyakit tungro pada tanaman padi. Apabila gulma-gulma tersebut setelah dikendalikan secara mekanis/fisik tidak ditangani lebih lanjut dan dipindahkan dari lahan tentunya akan menyebarkan virus tungro pada tanaman padi yang ditanam pada lahan tersebut di musim tanam berikutnya.
c.       Memanfaatkan gulma sebagai bahan baku kompos
Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik terutama gulma-gulma yang sifatnya mudah lapuk dan mempunyai kandungan unsur hara yang tinggi (unsur Nitrogen) dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik (kompos).

Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik secara mekanis/fisik dapat ditangani dengan 2 cara yaitu :
1.      Membakar gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik
Gulma-gulma yang telah dikendalikan secara mekanis/fisik baik dengan cara dicabut, dibabad, dikored, dicangkul, atau dipotong menggunakan mesin pemotong rumput perlu dibiarkan terlebih dahulu di lahan pertanian sampai agak kering. Kemudian gulma-gulma tersebut dikumpulkan menjadi satu di tempat terbuka untuk dibakar agar organ-organ perbanyakan gulmanya baik berupa biji maupun bagian vegatatif tidak dapat tumbuh kembali di lahan pertanian. Selain itu pembakaran gulma-gulma tersebut dimaksudkan untuk mencegah dan mematikan penyebaran patogen penyebab penyakit tanaman pada musim tanam berikutnya. Pembakaran gulma dilakukan di tempat terbuka terutama untuk mencegah kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran di lahan pertanian tersebut.
2.      Mengomposkan gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik
Pengomposan gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik akan menguntungkan dalam pengembalian unsur hara yang telah terambil/diserap oleh gulma ke dalam tanah. Hal ini akan membantu siklus unsur hara dalam tanah secara alami sehingga keseimbangan unsur hara dalam tanahnya dapat terjaga. Contohnya dengan pemanfaatan Azolla piñata pada lahan tanaman padi yang mempunyai kandungan unsur hara Nitrogen tinggi sebagai bahan baku kompos. Cara pengomposan gulma-gulma hasil pengendalian secara mekanis adalah dengan memisahkan gulma-gulma yang mudah lapuk dengan yang tidak mudah lapuk. Kemudian gulma-gulma tersebut dikumpulkan di satu tempat yang teduh dan terlindung untuk dikompodkan menjadi pupuk organik (kompos).

MEMBUAT KOMPOS DARI GULMA HASIL PENGENDALIAN SECARA MEKANIS/FISIK

Gulma hasil pengendalian secara mekanis/fisik yang telah terkumpul sebelum dibuat kompos perlu dipisahkan terlebih dahulu menurut kriteia bahannya. Kriteria bahan tersebut dapat dibedakan menjadi bahan yang mudah lapuk, susah lapuk, dan tidak dapat lapuk. Kriteria bahan-bahan tersebut ditentukan oleh beberapa hal yaitu :
a. Ukuran bahannya
Ukuran bahan kompos yang semakin halus atau kecil akan semakin mempercepat proses dekomposisi bahan kompos tersebut. Sebaliknya semakin besar ukuran bahannya maka akan semakin sulit atau lambat dalam proses dekomposisi bahan komposnya. Hal dengan ukuran bahan yang kecil akan meningkatkan permukaan spesifik bahan kompos dan menghasilkan ukuran partikel yang lebih seragam serta membuat bahan lebih homogen pada saat dilakukan pencampuran.
b. Kandungan air bahan
Kandungan air bahan untuk pmbuatan kompos bervariasi antara 30-74 %, tetapi kandungan air bahan kompos yang optimum antara 50-60 %. Kandungan air bahan kompos dari gulma yang semakin tinggi atau terlalu rendah akan membuat terjadinya pemadatan bahan atau proses dekomposisi akan terhenti sama sekali. Hal ini disebabkan denga kandungan air yang terlalu tinggi ruang pori dari bahan akan diisi oleh air dan terjadi kekurangan O2 pada ruang pori bahan yang terisi air. Akibatnya proses dekomposisi berlangsung anaerob yang ditandai dengan yang bahan berbau busuk dan dekomposisi lambat.
c. Nisbah C/N
Nisbah Karbon dan Nitrogen (nisbah C/N) sangat penting untuk memasok hara yang diperlukan mikroorganisme selama proses pengomposan berlangsung. Nisbah C/N yang memudahkan bahan dikomposkan adalah antara 20 : 1 sampai 30 : 1. Apabila ketersediaan Karbon terbatas atau nisbah C/N bahan terlalu rendah tidak cukup senyawa sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk dekomposisi bahan. Sebaliknya ketersediaan Karbon berlebihan atau nisbah C/N bahan terlalu tinggi maka pertumbuhan mikroorganismenya terbatas karena kekurangan Nitrogen sehingga proses dekomposisi terhambat.
Sedangkan pengomposan merupakan proses biologi oleh mikroorganisme secara terpisah atau bersama-sama dalam menguraikan bahan organik menjadi bahan semacam humus. Bahan yang terbentuk tersebut mempunyai berat volume yang lebih rendah daripada bahan dasarnya, bersifat stabil, kecepatan proses dekomposisi lambat dan sumber pupuk organik. Proses pengomposan secara alami di lahan pertanian sebenarnya dapat terjadi tetapi membutukan waktu yang lama sekitar 3-12 bulan atau bahkan lebih. Sementara pengomposan dengan campur tangan manusia akan lebih singkat karena adanya perlakuan tertentu yang dapat mempercepat proses dekomposisi atau penguraian.

Prinsip pembuatan kompos adalah dengan menumpuk berbagai bahan organik dalam susunan sedemikian rupa sehingga terjadi proses penguraian atau dekomposisi oleh mikroba pengurai.
Kecepatan penguraian atau dekomposisi bahan kompos dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain :
a. Kelembaban
Kelembaban selama proses pengomposan dipertahankan dalam kondisi cukup lembab dengan ciri bila bahan dipegang terasa seperti cucian baju yang baru diperas (kondisinya basah, tetapi tidak keluar air walaupun diperas). Kelembaban yang terlalu rendah akan menghentikan proses dekomposisi bahan oleh mikroorgaisme pengurai dan jika terlalu tinggi akan mengakibatkan pemadatan bahan serta terjadinya dekomposisi secara (anaerob tanpa Oksigen). Hal ini karena ruang pori bahan terisi air dan terjadi kekurangan Oksigen sehingga timbul bau busuk pada bahan dan proses dekomposisi menjadi lambat.
b. Sirkulasi udara
Sirkulasi udara mempengaruhi pasokan Oksigen untuk mikrooganisme pengurai (terutama bakteri dan fungi/jamur) dalam proses dekomposisi. Sirkulasi udara tersebut biasanya dipengaruhi berat bahan, frekuensi pembalikan bahan, dan ketinggian timbunan bahan yang diatur sedemikian rupa agar proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat.
c. Suhu
Suhu optimum untuk menujang proses dekomposisi dan pertumbuhan mikroorganisme pengurai berkisar antara 60o-70oC. Suhu timbunan bahan dapat diatur dengan pembalikan bahan terlalu periodik karena apabila suhu bahan terlalu tinggi akan mematikan mikroorganisme pengurai sehingga proses dekomposisi terhenti. Sedangkan suhu yang terlalu rendah kurang optimum untuk pertumbuhan mikroorganisme pengurai sehingga proses dekomposisi menjadi lambat.
Teknik membuat kompos berdasarkan cara pengomposannya secara umum dibedakan menjadi 2 cara yaitu :
ü  Pengomposan tanpa penambahan mikroorganisme pengurai
Teknik membuat kompos dengan cara ini pada dasarnya hanya menumpukkan bahan-bahan organik dan membalik-balikkannya secara periodik. Pembalikan secara periodik ini bertujuan untuk mempercepat proses peguraian atau dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai. Waktu yang dibutuhkan sampai terbentuknya kompos dengan cara tanpa penambahan mikroorganisme pengurai tersebut cukup lama, yaitu antara 2-6 bulan.
ü  Pengomposan tanpa penambahan mikroorganisme pengurai
Teknik membuat kompos dengan cara ini pada dasarnya sama dengan cara pertama juga perlu pembalikan secara periodic tetapi ada penambahan mikroorgnisme pengurai. Adanya penambahan mikroorganisme pengurai terutama EM4 (Effective Micorganism) ini dapat mempersingkat waktu pembentukan kompos, yaitu hanya 1 bulan. Selain itu kompos yang dihasilkanpun masih mengandung mikroorganisme pengurai sehingga menambah kesuburan tanah dan jumlah pemberiannya ke tanaman juga tidak sebanyak kompos dengan cara pertama.