Senin, 14 November 2016

MOTIVASI BELAJAR SISWA MASIH RENDAH


Tidak akan berguna media yang canggih, buku dan perangkat pembelajaran yang menarik dari seorang guru jika siswa tidak termotivasi untuk belajar.  Motivasi, merupakan kunci sukses siswa pada hampir semua jenjang pendidikannya, dan guru dapat memainkan perannya dalam memfasilitasi dan menumbuhkan motivasi tersebut. Namun untuk memotivasi siswa bukan hal yang mudah dan memerlukan waktu yang berbeda-beda.  Karena motivasi merupakan suatu kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.  Apabila kondisi psikologis seseorang baik maka dengan sendirinya motivasi untuk melakukan sesuatu juga baik.  Dalam hal ini pembelajaran tentu perlu menjadi perhatian oleh guru karena tidak semua siswa datang ke sekolah dengan kondisi psikologis yang sama karena pengaruh internal dan eksternal siswa itu sendiri. 
Dalam kegiatan belajar, motivasi siswa adalah salah satu tolak ukur menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Tidak adanya aktivitas belajar tentu akan berdampak terhadap tujuan pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran tidak tercapai, mencerminkan kegagalan yang dilakukan guru. Untuk itu, guru perlu menciptakan strategi yang tepat dalam memotivasi belajar peserta didik.
Menurut Pupuh Fathurrohman dan M. Sorby Sutikno (2010), motivasi dapat dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri siswa tanpa ada paksaan dan dorongan orang lain.  Kedua motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar siswa.  Biasanya timbul karena ajakan, suruhan atau paksaan dari ornag lain dalam hal ini guru sehingga dengan keadaa demikian siswa mau belajar.
Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang paling kuat karena motivasi tersebut timbul dari dalam diri siswa tanpa paksaan dari luar. Hendaknya guru membangun motivasi siswa yang kuat ini dalam pembelajaran, misal setelah mereka menyelesaikan tugas tertentu yang cukup rumit,  pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru bertanya kepada siswa bagaiman rasanya memperoleh nilai yang bagus atau memuaskan tentu hal ini akan membahagiakan batin siswa karena usahanya berhasil baik.  Penyadaran ini kepada siswa tentu akan membuat mereka mengulang kembali upaya-upaya positif tersebut dengan jelas.  Atau membantu siswa menemukan alasan pribadi mereka sendiri untuk melakukan belajar giat dan keras, baik karena mereka menemukan bahan yang menarik, ingin melanjutkan ke perguruan tinggi atau hanya karena senang belajar adalah salah satu hadiah yang paling kuat yang dapat guru berikan kepada siswa.  Siswa yang memiliki motivasi intrinsik memiliki kesadaran sendiri untuk belajar dan memperhatikan penjelasan guru dalam pembelajaran sehingga keingintahuan siswa tidak terpengaruh oleh gangguan yang ada disekitarnya.
Selain itu motivasi ekstrinsik juga sangat diperlukan siswa seperti reward atau hadiah, persaingan yang sehat antar siswa, pemberian nasihat dan pemberian funishmant atau hukuman.  Motivasi ekstrinsik atau motivasi dari luar merupakan dorongan untuk diri siswa merupakan keharusan yang dilakukan guru dalam pembelajaran agar tecapai keberhasilan.
Ada beberapa strategi yang dapat guru kembangkan untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran, yaitu:
1.      Informasi proses dan hasil penilaian
Siswa perlu mengetahui dan memahami bagaimana proses penilaian.  Setiap hasil penilaian guru hasilnya diberikan kepada siswa agar siswa mengetahui seberapa jauh kemampuan mereka.  Begitu pula jika memberikan tugas dan p[ekerjaan rumah.  Dengan demikan siswa mengetahui nilai mereka sudah bagus atau belum
2.      Menata materi pembelajaran
Materi pelajaran yang dianggap rumit perlu ditata dengan sederhana baik bahasa atau cara penyampaiannya kepada siswa, agar siswa mudah memahami materi pembelajaran yang disajikan
3.      Menyampaikan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran perlu disampaikan kepada siswa baik secara lisan maupun tertulis agar siswa dapat mengetahui pentingnya materi tersebut untuk mereka ketahui.
4.      Menghubungkan materi dengan pengalaman siswa
Penyederhanaan materi pelajaran yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari.  Atau lebih fokus pada penataan materi yang dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari.
5.      Sesuai dengan kemampuan berpikir siswa
Siswa mampu untuk menerima dan memahami materi pelajaran jika sesuai dengan taraf kemampuan berpikirnya.  Oleh sebab itu materi pelajaran perlu disederhanakan berdasarkan kemampuan berpikir rata-rata siswa di kelas.
6.      Suasana pembelajaran yang demokratis
Semua siswa menghendaki proses pembelajaran yang menyenangkan, proses ini dapat di wujudkan jika terjadi proses pembelajaran yang demokratis.  Proses pembelajaran harus diciptakan sesuai dengan kondisi yang menyenangkan untuk siswa.  Karena proses pembelajaran yang bebas dari tekanan guru maupun teman sekelas akan meningkatkan motivasi mereka dalam belajar, dimana siswa bebas bertanya dan menjawab pertanyaan dalam pembelajaran.
Adanya strategi di atas, menuntut kesiapan guru sebagai perancang pembelajaran untuk mampu mengimplementasikannya dalam kegiatan proses belajar mengajar. Guru harus mampu meninggalkan kebiasaan-kebiasaan pembelajaran yang dimonopoli oleh guru itu sendiri (teacher centre) . Karena guru dalam melaksanakan peranya sebagai pendidik, pengajar pemimpin, administrator, harus mampu melayani siswa yang dilandasi kesadaran (awarreness), keyakinan (belief), kedisiplinan (discipline) dan tanggung jawab (responsibility) secara optimal sehingga memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan siswa secara optimal baik fisik maupun phisikis.  Perkembangan siswa secara optimal akan terlihat bagaiman sang guru mampu menumbuhkan motivasi pada diri siswa dalam pembelajaran.
Peranan motivasi siswa dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh strategi yang digunakan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berdampak terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk itu, guru sebelum melaksanakan proses pembelajarn harus mampu melakukan pemetaan terhadap kompetensi dan motivasi siswa dalam belajar. Dengan mengenal keragaman yang dimiliki siswa, maka guru dengan strategi yang tepat akan mampu mendorong siswa untuk mengikuti dan memahami pembelajaran secara optimal. Apabila pembelajaran telah diikuti secara optimal, otomatis berdampak terhadap proses dan hasil pembelajaran yang diperoleh siswa. Dengan demikian tujuan pembelajaran pun akan tercapai secara maksimal. Ini semua tentu dikembalikan kepada guru sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar